Synopsis / Notes
Anak usia sekolah merupakan kelompok rentan dalam investasi gizi karena mereka akan memasuki usia produktif pada tahun 2045. Namun, tantangan gizi pada kelompok ini masih cukup besar.\\r\\nSebanyak 26,1% anak usia sekolah tidak sarapan, masalah gizi kurang dialami oleh 11,0% anak usia 5– 12 tahun, 7,6% remaja usia 13–15 tahun, dan 8,3% remaja usia 16–18 tahun. Anemia juga masih terjadi\\r\\npada 16,3% anak usia 5–14 tahun dan 15,3% kelompok usia 15–24 tahun. Kondisi ini menunjukkan pentingnya peningkatan jumlah dan kualitas asupan makanan selama usia sekolah. \\r\\nProgram Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan peluang strategis untuk membantu mengatasi kesenjangan asupan gizi melalui penyediaan makanan bergizi secara rutin. Namun, keragaman\\r\\npola makan dan ketersediaan pangan di berbagai wilayah Indonesia menyebabkan zat gizi yang bermasalah serta pangan yang dapat digunakan untuk memenuhinya dapat berbeda antarwilayah.\\r\\nUntuk mendukung intervensi gizi di sekolah yang lebih sesuai konteks, SEAMEO RECFON, GAIN, dan mitra akademik menggunakan pendekatan Linear Programming dengan perangkat WHO Optifood\\r\\nuntuk mengembangkan Panduan Gizi Seimbang Berbasis Pangan Lokal (PGS-PL) berdasarkan pola konsumsi aktual, ketersediaan pangan lokal, dan kesenjangan zat gizi. PGS-PL ini dapat digunakan\\r\\nuntuk mendukung penyusunan menu MBG padat gizi sekaligus edukasi gizi yang relevan dengan kondisi setempat, sehingga pedoman gizi seimbang nasional dapat diterjemahkan menjadi praktik yang\\r\\nlebih mudah diterapkan oleh sekolah, anak, dan keluarga.